Halo, saya Healing Santa, Kim Ji-yu.
Suatu subuh di bulan Januari 2019, ketika saya masih menderita akibat kecelakaan lalu lintas, saya terbangun, membuka Alkitab, dan berdoa, “Tuhan, berilah aku hikmat.”
Nama yang saya tulis di buku catatan hari itu adalah Nathaniel Branden — psikolog Amerika yang dijuluki bapak harga diri.

Hari ini, tujuh tahun kemudian, saya mengeluarkan dan membaca kembali tulisan yang dulu saya tinggalkan di blog dengan judul “Meningkatkan Harga Diri 1”.
Akhir-akhir ini kata yang paling lama tinggal di hati saya adalah “pertemuan”: bertemu orang-orang baik dan menjadi bahagia dalam hubungan yang baik.
Ketika memikirkan dari mana semua itu dimulai, akhirnya saya kembali lagi pada pertemuan dengan diri saya sendiri.
1. Harga diri: dua keyakinan di dalam diri saya
Branden menggambarkan harga diri seperti ini:
“Kecenderungan batin untuk merasakan diri mampu menghadapi tantangan dasar kehidupan dan layak untuk bahagia.”
Jadi di dalam harga diri hidup dua keyakinan sekaligus:
efikasi diri yang berkata “Aku bisa”, dan penghargaan diri yang berkata “Aku berharga dan pantas bahagia”.
Jika karena satu ucapan seseorang kita terus mengulang pada diri sendiri “Kamu tidak bisa” atau “Kamu tidak pantas”, maka pada saat itu harga diri kita sedang terluka.
Virginia Satir, tokoh besar terapi keluarga, juga mengatakan bahwa harga diri adalah hal yang paling memengaruhi hidup seseorang, dan bahwa tidak berlebihan untuk berfokus pada peningkatan harga diri ketika mendampingi masalah hubungan. Saya sangat setuju.
2. Mengapa pertemuan kadang terasa menyakitkan?

Bertahun-tahun bertemu dan mengamati orang, saya melihat begitu banyak yang terluka dalam hubungan lalu pergi di tengah jalan.
Ketika harga diri rendah, hal yang asing dan baru menjadi tidak nyaman, dan ketidaknyamanan itu muncul dalam hubungan sebagai serangan atau kecurigaan — kadang lewat benturan langsung, kadang lewat omongan di belakang yang melukai hubungan.
Kadang kita mencoba membangun harga diri palsu dari hal-hal yang terlihat orang lain, seperti popularitas, kekayaan, atau kekuasaan, tetapi hati tetap gelisah dan hampa, dan terkadang kita mencoba mengisi lapar batin itu dengan obrolan tak berarti, belanja, atau makanan.
Branden mengatakan, makin tinggi harga diri kita, makin terbuka, jujur, dan tepat komunikasi kita; makin rendah, makin kabur dan mengelak.
Ia juga meninggalkan kata-kata ini:
“Kisah cinta pertama yang harus kita jalani dengan berhasil adalah kisah cinta dengan diri sendiri; barulah setelah itu kita siap untuk menjalin hubungan dengan orang lain.”
Artinya, pertemuan yang bahagia bukan datang dari memilih orang lain dengan tepat, tetapi ketika saya, dengan harga diri yang sehat, lebih dulu siap.
Daun-daun gugur di tanah tidak apa-apa meski diinjak berkali-kali, karena mereka mengerti hukum alam.

3. Pilar pertama: hidup yang terjaga dan sadar

Branden berbicara tentang enam pilar yang menopang harga diri yang sehat:
hidup dengan sadar · penerimaan diri · tanggung jawab diri · ketegasan diri · hidup dengan tujuan · integritas pribadi
Pilar yang paling pertama di antaranya adalah “hidup yang terjaga dan sadar”.
Dalam kata-kata Branden, hidup dengan sadar berarti hadir sepenuhnya dalam apa yang sedang saya lakukan; berusaha memahami hal-hal yang berkaitan dengan nilai dan tujuan hidup saya; serta menyadari dunia di luar sekaligus dunia di dalam diri saya.
Dasarnya adalah sikap menghormati fakta apa adanya — tidak hanya melihat apa yang ingin dilihat, dan tidak berpaling dari kebenaran yang tidak nyaman.
Ada alasan mengapa Branden menyebutnya “pilar” namun sengaja menyebutnya “praktik”: ini bukan sesuatu yang dilakukan hanya saat sedang ingin, melainkan sikap hidup yang dilatih dengan tekun setiap hari.
Karena itu harga diri tidak muncul karena dipuji orang, juga tidak diperoleh lewat kesuksesan besar; ia adalah buah dari praktik-praktik kecil yang berawal dari dalam diri dan menumpuk lewat pengulangan.
4. Tetap terjaga dalam pertemuan

Hidup yang terjaga dan sadar tidak semudah kedengarannya, karena dalam hubungan artinya melihat posisi kedua pihak dengan mata yang objektif dan mengupayakan keadilan.
Begitu pula hari itu di Jeju. Setelah percakapan telepon singkat dengan seorang orang tua murid, hati saya terasa sakit, karena saya merasakan simpul hati yang diwariskan dari keluarga asal dan luka yang tampak di dalamnya.
Saat itu, saya hanya berpegang pada satu hal:
“Apakah pertemuan ini membuat perasaanku lebih baik, atau lebih buruk?”
Memandang diri sendiri dengan mata pengamat yang terjaga — menyadari sendiri dalam hubungan mana perasaan saya runtuh, dan pada saat apa harga diri saya terluka.
Hanya dengan kesadaran ini, alih-alih menyalahkan orang lain atau merendahkan diri, pertemuan yang melindungi diri sekaligus merangkul orang lain menjadi mungkin.
Branden mengatakan bahwa melihat dunia dengan mata sendiri dan hidup dengan penilaian sendiri, bukan mengulang pikiran orang lain, adalah keberanian dan kepercayaan diri. Orang yang terjaga dapat bertemu orang lain apa adanya, bukan lewat gosip atau prasangka.

Ungkapan bahwa manusia lebih indah daripada bunga baru benar-benar terasa ketika kita bertemu dengan mata yang terjaga.
5. Seperti biji ek kecil yang menjadi pohon ek

Hari itu di jalan setapak saya memungut segenggam biji ek. Puluhan tahun lalu, sebutir biji ek kecil seperti ini pasti jatuh ke tanah lalu menjadi pohon ek sebesar itu.

Walau bentuk saya hilang dan berubah, bukan berarti saya bukan diri saya lagi. Kapan pun dan di mana pun, saya tetaplah saya. Hanya saja, sikap yang lentur sesuai keadaan memang sangat diperlukan.
Harga diri pun tumbuh seperti itu. Kesadaran kecil untuk tetap terjaga dari hari ke hari suatu hari menjadi pohon yang kokoh, yang memberi istirahat bagi saya dan bagi orang-orang di sisi saya.
6. Latihan hati 5 menit hari ini

Meminjam latihan “melengkapi kalimat” yang disukai Branden, cobalah perlahan-lahan, seperti menikmati Meja Hati PuNolChi 5 menit sehari.

Satu. Ingatlah seseorang yang Anda temui hari ini, lalu lanjutkan di dalam hati: “Saat bersama orang itu, aku merasa ___.”
Dua. Jangan menilai perasaan itu; lihat saja apa adanya — baik jika memang baik, tidak nyaman jika memang tidak nyaman.
Tiga. Lalu lanjutkan seperti ini: “Jika dalam pertemuan besok aku sedikit lebih terjaga, aku akan ___.”
Lima menit untuk menikmati pertemuan hari itu perlahan-lahan, seperti mengunyah sesendok nasi dan merasakan rasanya. Lima menit itu akan menjadi kunci pertama yang membuka pertemuan yang bahagia.
Penutup

Pertemuan yang bahagia bukanlah keberuntungan yang datang dari luar; ia berawal dari diri yang terjaga, diri yang memiliki harga diri yang sehat.
Ketika saya menyadari diri saya apa adanya, saya pun dapat melihat orang lain apa adanya, dan bersama orang-orang yang kita temui dengan cara itu, kita menjadi hubungan yang saling menghidupkan.
Dalam kisah berikutnya, saya akan kembali dengan pilar kedua, “penerimaan diri: memeluk diri apa adanya”.
Dalam pertemuan mana hari ini Anda bertemu dengan “diri yang terjaga”?
Healing Santa Kim Ji-yu
Referensi: Nathaniel Branden, The Six Pillars of Self-Esteem; tulisan di situs resmi Branden; tulisan blog Healing Santa “Meningkatkan Harga Diri 1” (23.1.2019)
Kisah ini pertama kali diunggah di Perjalanan Hati PuNolChi: menulis untuk penyembuhan di kafe ruang penyembuhan Haengbok Yeolgi.